Jumat, 26 Juni 2015

Konsep dan Pola Pikir Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan

| Jumat, 26 Juni 2015
Muhammad Iqbal senantiasa berupaya mereformasi pemikiran agama dengan menanamkan dan membudayakan rasionalitas. Menurutnya, rasionalitas sudah menyatu dengan Islam sejak zaman kenabian. Iqbal yang menguasai ilmu-ilmu logika lantas mengkritisi metode logika ala Yunani kuno. Al-Qur’an menyeru kita untuk menuntut ilmu. Sayangnya, umat Islam lalai akan seruan itu. Mohammad Iqbal meyakini bahwa tertutupnya pintu ijtihad yang merupakan ajang pengembangan dari pemikiran Islam yang sebenarnya telah mengakibatkan stagtansi pemikiran di tengah masyarakat Islam. Karena itu, jika pintu ijtihad yang benar dibuka khususnya dalam kasus-kasus yang disepakati oleh umat Islam, akan terbentang jalan bagi umat Islam menuju ke arah kemajuan.
 
Dalam paradigma Muhammad Iqbal sendiri tentang pendidikan Islam, beliau berpendapat bahwa pendidikan Islam sangat modern. Muhammad Iqbal menjadikan hakikat ego atau individualitas sebagai dasarnya dan menjadi alas penopang keseluruhan struktur pemikirannya. Masalah ini dibahas dalam karyanya yang ditulis dalam bahasa Persia dengan bentuk matsnawi berjudul Asrar-i Khudi; kemudian dikembangkan dalam berbagai puisi dan dalam kumpulan ceramah yang kemudian dibukukan dengan judul The Reconstruction of Relegious Thought in Islam. Menurut Iqbal, khudi, arti harfiahnya ego atau self atau individualitas, merupakan suatu kesatuan yang riil atau nyata, adalah pusat dan landasan dari semua kehidupan, merupakan suatu iradah kreatif yang terarah secara rasional. Arti terarah secara rasional, menjelaskan bahwa hidup bukanlah suatu arus tak terbentuk, melainkan suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur, suatu kegiatan sintesis yang melingkupi serta memusatkan kecenderungan-kecenderungan yang bercerai-berai dari organisme yang hidup ke arah suatu tujuan konstruktif. Iqbal menerangkan bahwa khudi merupakan pusat dan landasan dari keseluruhan  kehidupan. Hal ini tercantum pada beberapa matsnawinya dalam Asrar-i Khudi. Untuk memperkuat ego dibutuhkan cinta (intuisi) dan ketertarikan, sedangkan yang memperlemahnya adalah ketergantungan pada yang lain. Untuk mencapai kesempurnaan ego maka setiap individu mesti menjalani tiga tahap. Pertama, setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar tunduk kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum ilahiah. Kedua, belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan dirinya melalui rasa takut dan cinta kepada Tuhan seraya tidak bergantung pada dunia. Ketiga, menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai kesempurnaan spiritual (Insan Kamil).
 
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa esensi pendidikan Islam menurut Muhammad Iqbal adalah sebagai pengupayaan perubahan ke arah yang lebih baik, yang mengarah pada pengembangan, menurut tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, meniscayakan pendidikan berorientasi pada masa depan masyarakat, bukan masa sekarang, dan atau hanya sekedar pelestarian nilai-nilai semata. Masyarakat sebenarnya tidak bisa dipandang sebagai sebuah sistem yang kaku. Hal ini dikarnakan didalamnya terdapat jaringan-jaringan yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya yang bermuara pada sebuah peristiwa yang bergerak kearah perubahan-perubahan.

Dalam konteks pendidikan, gerakan perubahan suatu masyarakat dan sosial lebih diarahkan pada uapaya bagaimana penyelenggaraan pendidikan diorientasikan untuk menjawab ragam persoalan dan kebutuhan masyarakat dalam gerak bangun kemajuan diberbagai sektor kehidupan. Pendidikan mestinya harus diselenggarakan atas dasar prinsip-prinsip epietemologi yang bener-benar merupakan refleksi nyata atas model gerak manusia dalam mengatur diri dan kediriannya agar dapat benar-benar berfungsi dan difungsikan sebagai penggerak potensi perubahan dan kemajuan diberbagi sektor. Dalam konteks dunia pendidikan, pendidikan persekolahan merupakan wadah strategis dalam mempercepat lahirnya perbaikan-perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik dalam konteks pengembangan individu-individu yang bergabung dalam suatu tatanan masyarakat, maupun dalam konteks kolektifitas dan kelembagaan yang meniscayakan munculnya masyarakat baru yang lebih arif dan tanggap untuk berbuat sesuatu yang mengarah pada perbaikan-perbaikan taraf hidup di berbagai lini. Namun dibalik itu semua, sistem pendidikan mestinya tidak memenjarakan kebebasan dan kreatifitas para pemburu ilmu pengetahuan.
 
Dari penjelasan tersebut jelas antara kaum Rekonstruksionisme dengan Muhammad Iqbal jelas mempunya perhatian yang sama terhadap pendidikan. Hanya saja kaum rekonstruksionisme lebih banyak mengkritik dan memberikan ide-ide terhadap dunia pendidikan secara umum. Sedangkan Muhammad Iqbal sangat mengharapkan perubahan dan merekonstruksi pendidikan islam yang sudah sangat mengkhawatirkan. Melalui filsafat ego nya Muhammad Iqbal mencoba memberikan pandangan-pandangan dan kritik yang membangun terhadap dunia pendidikan. Bila diarahkan pada konteks sekarang ini, dimana pendidikan islam jelas-jelas sudah berada dalam masa yang sangat kritis dan mengkhawatirkan. Dan situasi ini jelas-jelas sangat membutuhkan rekonstruksi terhadap sistem pendidikan islam. Dan pada akhirnya yang harus bertanggung jawab dalam rekontruksi ini bukan hanya Muhammad Iqbal, namun kita semua. Yaitu para pendidik, orang tua, masyarakat, dan semua sistem yang ada harus diperbaiki.

*Oleh: Jeeny Rahmayana, M.Pd.I 
*Penulis adalah Ketua Prodi & Dosen Institut Agama Islam (IAI) Tafaqquh Fiddin Dumai-Riau

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar