Cerita Anekdot Liburan Tahun Baru Dengan Bonus Surat Tilang

Pernah menyuap polisi dengan uang recehan ratusan rupiah? Aku pernah melakukannya? Simak kisahku dalam cerita anekdot ini.

Kejadian nyata ini terjadi sekitar tahun 2001. Waktu itu aku masih kuliah semester awal. Ku punya hobi naik gunung setiap liburan tahun baru.

Siang harinya beberapa jam sebelum berangkat ke Gunung Lamongan Lumajang, aku menjemput Fredy, saudaraku di Gebang. Dari sana aku bonceng dia ke rumah Uud, temanku di Kaliwates.

Untuk menuju ke Kaliwates harus melewati jalan Gajah Mada yang merupakan jalan utama di kota Jember.

Karena Fredy tidak pakai helm, terpaksa kita harus toleh kiri kanan, takut ada polisi. Kalau ada harus cari jalan tikus untuk lari.

Hampir mendekati Kaliwates, situasi aman. Tidak ada polisi sama sekali. Lega perasaan.

Beberapa meter belokan ke rumah Uud tiba-tiba ada orang pakai sepeda motor mepet sepeda motorku. Waduh, polisi!

"Selamat siang, mas. Bisa minta surat-suratnya," kata polisi itu saat kami menepi.

Kutunjukkan surat-surat. Untungnya lengkap.

"Mari ikut saya ke pos," kata polisi itu sambil membawa SIM dan STNK punyaku.

Aku mengikuti polisi itu ke pos terdekat. Tidak ada orang. Cuma kami bertiga.

"Tahu kesalahannya mas?," tanya polisi.

"Ya, pak. Adik saya tidak pakai helm," kataku. Aku agak gemetar karena itu pengalaman pertama aku berhadapan dengan polisi.

"Pilih tilang atau damai?" kata polisi.

"Damai saja, pak!" kataku sambil mengeluarkan dompet. Waktu itu dompetku penuh dengan uang lembaran ratusan rupiah yang warnanya merah. Maklum ku kerja paruh waktu di sebuah wartel. Uang recehan mutlak harus punya.



"Tilang saja. Tidak ada damai," tukas polisi tersebut. Mungkin dia iba melihat uang recehanku. Atau dia menganggap aku kere hehehehehe....

Akhirnya ku menerima surat tilang. Pas sudah. Menikmati tahun baru dengan bonus surat tilang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright (c) 2010-2016. sekolahoke.com