Peran Guru Dalam Mencerdaskan Bangsa

Mengapa mau menjadi guru?

Begitu lulus SMA saya sempat kebingungan. Mau kemana? Mau kerja apa? Berbekal ijasah dan sedikit kemampuan Bahasa Inggris, malah seperti orang linglung.

Atas saran teman, saya diminta ikut ujian masuk perguruan tinggi saja. Katanya, jaman sudah lain. Ijasah SMA tidak laku lagi di dunia kerja. Orang harus kuliah untuk bisa kerja yang nyaman.

Usulan itu saya terima. Akhirnya atas ijin orang tua, saya daftar UMPTN tahun 1999. Jurusan yang saya pilih adalah jurusan pendidikan. 

Lucunya, saya tidak tau kalu jurusan pendidikan itu adalah jurusan untuk jadi guru. Yang penting kuliah. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya tulis aja jurusan pilihan Pendidikan Bahasa Inggris.

Sebulan kemudian, nama saya ternyata tertera dalam pengumuman kelulusan. Disitulah baru saya tahu kalau jurusan pendidikan bahasa Inggris itu akan mencetak guru bahasa Inggris. Saat melihat-lihat tempat kuliah, disana terpampang tulisan "Selamat Datang Calon Guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan". Duh, rupanya saya akan dicetak jadi guru.

Padahal dalam pikiran, saya akan belajar Bahasa Inggris saja. Tidak ada embel-embel guru. Saya tidak suka profesi guru karena waktu itu guru masih identik dengan orang miskin yang gak bakal jadi kaya hehehe... Sebuah paradigma lama yang terasa hilang saat saya menjadi guru seperti sekarang ini.

Lulus kuliah, saya mulai mengajar bahasa Inggris di sebuah pondok pesantren. Metode tradisional dan tak berkembang. Mengajar ala kadarnya. Tak ada inovasi. Maklum, lulus kuliah, saya kembali ke desa. Mengajar di tempat yang jauh dari akses informasi dan komunikasi canggih.

Hingga akhirnya saya mendapat panggilan untuk mengikuti pelatihan guru Bahasa Inggris kerjasama Australia-Indonesia. Pelatihan inilah yang membuka cakrawala saya. Pelatihan yang memakan waktu hampir setahun inilah yang membuka mata saya bahwa profesi guru itu menyenangkan. 

Rasa senang inilah yang kemudian membuat saya mencintai profesi guru. Ya, rasa senang itu membuat enjoy dengan pekerjaan. Rasa senang itu ternyata membawa kita bisa mencintai sesuatu.

Jadi kalau ditanya mengapa saya mau menjadi guru? Jawabannya tidak muluk-muluk. Saya mau menjadi guru karena saya suka profesi ini.

Perjalanan Menjadi Blogger-Guru

Menikah dengan orang Jember, membuat saya meninggalkan kampung halaman. Saya akhirnya harus mengabdi di lingkungan kerja baru. 

Sebuah sekolah negeri di Jember dengan fasilitas yang lumayan, membuat saya bisa bebas berkreasi. Di sekolah inilah saya berinovasi. Gaya mengajar tradisional mulai berubah menjadi lebih modern.

Ternyata benar, teknologi itu bisa merubah gaya mengajar. Gaya monoton dengan ceramah di kelas sudah harus ditinggalkan. Semuanya diganti dengan pemanfaatan media belajar yang menyenangkan namun tak menghilangkan sisi edukasi.

Tahun-tahun pertama saya masih menggunakan powerpoint sebagai alat presentasi. Menggunakan media powerpoint sudah kelihatan canggih saat itu.

Memasuki tahun 2010 saya mulai mengenal banyak situs dan blog belajar mengajar. Saya ingat betul, waktu browsing di google saya bertemu dengan blog belajar bahasa Inggris online bernama elllo.org. Blog berisi materi listening yang bisa dibuat latihan online. Blog ini sangat menarik dan unik. Bahkan saya tak bosan-bosan kembali berkunjung ke blog ini setiap waktu.

Terinspirasi dari blog inilah, akhirnya saya memutuskan membuat sebuah blog untuk pembelajaran. Lalu, hadirlah sekolahoke.com di belantara dunia maya, tempat saya berkreasi selama satu setengah tahun ini. Apa tujuannya. Tentu saja, yang utama adalah sebagai media belajar untuk mencerdaskan bangsa.

Berkecimpung di dunia blogging, membuat saya mengenal rekan guru yang juga suka hobbi blogging. Bertemulah saya dengan Om Jay di Kompasiana. Walau tidak intens bertegur sapa, kami tetap bersahabat, sebagai guru, juga sebagai blogger.

Dari Om Jay saya menemukan semangat untuk terus berkarya. Karena setahu saya selama ber-Kompasiana, beliau ini orang yang tak pernah ada capeknya. Tiap hari karya guru "besar" ini muncul menghiasai rubrik Citizen Jurnalism itu.

Supaya lebih mengenal Om Jay, sayapun berkunjung ke blog pribadinya di www.wijayalabs.com. Walaupun tampilan blognya sederhana, saya melihat ruh pendidikan disana. Ruh mengabdi terhadap dunia pendidikan untuk membawa bangsa menjadi manusia cerdas.

Om Jay menggunakan media blognya untuk menuliskan kisah hidupnya tentang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Banyak artikel pendidikan yang sedikit banyak membantu membuka cakrawala berpikir.

Baru-baru ini Om Jay sedang giat-giatnya membuat media blog sebagai alat untuk melakukan tes online. Menurut pendapat saya itu cukup bagus. Bagusnya dimana? Bagus karena mengurangi biaya penggunaan kertas.

Bagusnya lagi, media ini bisa digunakan kapan saja. Jika siswa lupa dengan apa yang dipelajari, dia tinggal masuk ke blog kemudian membuka postingan materi dari Om Jay.

Kekurangannya hanya pada bentuk tes yang masih menggunakan pihak ketiga. Dengan menggunakan pihak ketiga, Om Jay perlu melakukan proses embeding. Proses embeding ini yang kadang membuat aplikasi kuis di blog Om Jay tak bisa muncul bagi yang punya koneksi jelek.

Sayapun terus berkelana mencari ilmu. Bertemu dengan KafeGuru.com. Blog ini juga dikelola oleh seorang guru. Blog yang dibangun sejak April 2011 ini terlihat serius berbagi tentang dunia pendidikan. Banyak ilmu pendidikan yang kita bisa dapat di dalamnya. 

Dari ketiga blog yang saya kunjungi tersebut di atas saya melihat ada cita-cita mulia di dalamnya. Apakah cita-cita para blogger-guru ini? Mencerdaskan bangsa.

Peran Guru Dalam Mencerdaskan Bangsa

Berbicara tentang peran guru dalam mencerdaskan bangsa berarti membicarakan tentang usaha. Tentu saja usaha ini memerlukan proses yang tidak begitu saja terjadi seperti semudah membalikkan telapak tangan.

Apa saja peran yang bisa diambil oleh seorang guru untuk mencerdaskan anak bangsa ini?

Inilah 8 peran yang sampaikan oleh Marry Sprat dalam buku TKT Course agar tercipta generasi yang cerdas. Tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga cerdas secara emosional.

Guru berperan sebagai perencana (planner).

Merencanakan adalah awal suatu proses. Guru profesional mengedepankan perencanaan yang matang di setiap proses pembelajaran. Tujuannya adalah mengarahkan pembelajaran serta memprediksi kesulitan peserta didik. Dengan perencanaan yang matang, guru telah berusaha mengetahui masalah-masalah yang akan dihadapi dalam pembelajaran.

Guru berperan sebagai pemberi informasi (informer).

Guru bertindak memberikan informasi yang dibutuhkan peserta didik. Maka dari itu, jadi guru tidak boleh kuper. Guru harus melek informasi, agar ketika anak didiknya butuh, dia bisa memberikan informasi akurat.

Guru berperan sebagai pengatur (manager).

Guru adalah manajer dalam proses pembelajaran. Guru mengatur materi, interaksi antara siswa dengan siswa, dan aktivitas dalam kelas. Usaha pengaturan ini melatih peserta didik menjadi makhluk sosial dan taat aturan.

Guru berperan sebagai pemerhati (monitor).

Guru memperhatikan perkembangan siswa. Mengawasi siswa yang lemah untuk diberi bantuan, dan siswa yang berkembang pesat untuk diberi pengayaan.

Guru berperan sebagai penggerak (involver).

Guru berperan merangsang minat kreativitas peserta didik. Rangsangan dari guru inilah yang akan membuat intelektual peserta didik menjadi semakin baik. Karena dengan menggerakkan, guru telah mengajarkan siswa menggunakan seluruh inderanya untuk belajar.

Guru berperan sebagai orang tua/teman (parent/friend).

Disini guru mengambil peran sebagai orang yang dekat dengan siswa. Sebagai orang tua, guru menjadi tempat berlindung dan meminta nasehat. Sebagai teman, guru bisa menjadi tempat curahan hati. Dengan kedekatan ini, guru telah mengambil peran mencerdaskan dari sisi emosional.

Guru berperan sebagai pendiagnosa (diagnotician).

Guru berperan sebagai pendiagnosa. Diagnosa sama dengan mengevaluasi. Salah satu tugas guru setelah proses belajar mengajar adalah mengevaluasi. Proses evaluasi ini merupakan langkah guru mengenali kelemahan peserta didik. Dengan mengenal kelemahan peserta didik, guru bisa memberikan solusi sehingga kecerdasan intelektual mereka bisa diasah lebih baik lagi.

Guru berperan sebagai sumber (source).

Guru adalah sumber untuk bertanya. Guru paling tidak harus bisa menjawab permasalahan peserta didik. Karena dengan menjadi pegangan, guru telah berupaya membangun kecerdasan emosional siswa yang cenderung labil.

Guru adalah ujung tombak pendidikan nasional. Di tangannyalah nasib bangsa ini ditentukan. Agar tercipta generasi bangsa yang cerdas, perlu usaha maksimal dan tidak pernah mengenal kata henti. Jika ada guru yang merasa lelah memberi pendidikan moral dan intelektual, maka pastilah bangsa ini tak akan berumur lama lagi.

Penulis: Fadli Eha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright (c) 2010-2016. sekolahoke.com