Lebih Takut Bom Daripada Tuhan

Hari ini hari Jum'at, Pak Tarno menghidupkan sepeda motornya hendak menuju ke masjid. Setelah mengucapkan bismillah, lelaki berusia 45 tahun itu mulai menarik gas menuju masjid An Nur yang berjarak sekitar 3 km dari rumahnya.

5 menit kemudian Pak Tarno sudah memarkir motornya di depan pelataran masjid. Dipastikannya motornya terkunci dengan baik. Tak lupa ia memasang kunci tambahan pada bagian rem cakram bagian depan.

Khotib sudah naik mimbar dan membaca khotbah saat pak Tarno shalat tahiyatal masjid. Pak Tarno mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh khotib itu setelah selesai menunaikan salat sunah itu tersebut.

5 menit berlalu. Pikiran pak Tarno mulai tak konsentrasi. Dia memandang berkeliling melihat jamaah Jum'at yang nampak khusuk mendengarkan khotbah.

Di deretan bagian belakang nampak anak-anak kecil usia di bawah 10 tahunan bermain-main dengan asyiknya. Sepertinya mereka tidak tahu kalau ini adalah rumah Allah. Tapi biarlah toh mereka masih belum akil baligh. Belum tahu mana yang baik dan yang buruk

Pak Tarno menatap seseorang yang berjarak 2 meter dari tempatnya. Pakaian orang itu lusuh. Sekilas dia nampak gelisah dan menoleh kiri dan kanan.

Pak Tarno mulai tidak enak hati. Pikirannya mulai dirayapi syak wasangka. "Jangan-jangan dia pelaku bom bunuh diri untuk meledakkan tempat ini," Pak Tarno mulai membayangkan bom yang terjadi di sebuah masjid di Cirebon hari Jum'at lalu.

Pak Tarno menatap dengan hati berdebar-debar. Dilihatnya bagian perut lelaki itu agak menyembul membuatnya semakin yakin kalau itu adalah bom.

"Aduh, celaka. Jaraknya dekat banget lagi. Kalau sampai meledak matilah aku. Kalau masjidnya ambruk, aduhhhh mati deh!"

Pak Tarno beringsut ke dekat pintu. Dia menimbang-nimbang kalau bom itu meledak, apakah akan mengenainya di dekat pintu?

Lelaki itu makin gelisah. Dia memandang berkeliling. Beberapa pasang mata memperhatikan gerak-gerik Pak Tarno. Entah apakah mereka tahu apa yang sedang dikhawatirkan Pak Tarno apa tidak.

Pak Tarno tak peduli dengan sekitarnya. Khotbah masih berlangsung, saat Pak Tarno menarik gas motornya pulang ke rumah. "Daripada kena bom, lebih baik kabur," gumam Pak Tarno di rumahnya.

Lelaki itu duduk di beranda rumahnya. Ditunggunya apakah akan ada suara ledakan dari masjid itu. 1 jam berlalu, tidak ada apa-apa. 2 jam berjalan, juga tidak terdengar apa-apa. 3 jam sudah Pak Tarno menunggu kabar, tetap tidak ada yang terjadi.

"Hmmm, ternyata aku lebih takut bom daripada Tuhan," Pak Tarno tersenyum kecut.




By: Fadli Eha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright (c) 2010-2016. sekolahoke.com